LABUHA – Pekerjaan proyek pembangunan air bersih Desa Kusubibi Kecamatan Bacan Barat, terkesan amburadu. Kenapa tidak pekerjaan yang menelan anggaran senilai 463 juta itu dikerjakan sejak awal tahun 2020 namum hingga awal 2021 ini belum selesai.
Informasi yang dihimpun media ini menyebutkan, proyek Dinas Perumahan Pemukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim-LH) Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) seharusnya selesai dikerjakan pertengahan atau akhir tahun 2020. Namun hingga saat ini proyek yang dikerjakan CV. Batanghari itu masih dalam proses pekerjaan, sebab masih kurang lebih 50 staf pipa yang belum dipasang.
Padahal warga setempat sangat membutuhkan air bersih, sebab areal air bersih yang seperti biasanya dikonsumsi warga Kusubibi telah terganggu kurang lebih 3 bulan ini. Gangguan warga mengkonsumsi air bersih itu dikarenakan cemarnya limba B3 alias Cyanida dan Mercury dari tambang rakyat Ilegal Desa Kusubibi.
Tergangguhnya warga mengkonsumsi air sempat menjadi polemik hingga mengakibatkan tambang ilegal Desa Kusubibi harus ditutup sementara waktu. Lebih eloknya lagi pemasangan pipa air bersih itu dipasang pada mengikuti sepanjang jalan tani warga Desa Kusubibi sehingga saat hujan jalan tani jadi becek. Dan rata-rata pipa air persih bukannya tertanam tapi malah diatas tanah. Bahkan besar dugaan pemasangan pipa itu tidak evektif.
Hal itu diakui Ridwan Pejabat Pembuat Komitmen Proyek Air Bersih Disperkim LH Halsel.
Ridwan mengatakan proyek itu hanya keterlambatan pembelian pipa dari pihak ketiga yakni kontraktor yang bernama ibu Baya. “Proyek dibawa itu hanya terlambat pipa,” kata Ridwan kepada segmen.co.id, diruang kerja Ahmad Hadi Kadis Perkim-LH, Kamis (07/01/2021) kemarin.
Kepala Seksi Lingkungan Hidup Disperkim-LH itu juga bilang, pekerjaan air bersih di Desa Kusubibi tidak disertakan pemasangan kram ke rumah warga, namun model pekerjaannya hanya dari sebatas bak air atau mata air itu menuju kampung.
Begitu sampai ke kampung, kata Ridwan juga hanya dua titik alias kramit yang dipasangkan sesuai RAP proyek. “Pekerjaan disana itu tidak sampai ke sambungan rumah-rumah. Hanya 2 titik saja,” aku Ridwan.
Selain itu dirinya juga mengakui bahwa proyek tersebut telah di Adendum sebab terlambat pekerjaan. Karena seharusnya pekerjaan itu selesai pada tahun 2020 namun ada sebahgian keterlambatan sehingga harus di Adendum. “Ia ada adendum. Dari keuangan so antisipasi dia pe anggaran 30 persen so ditahan,” paparnya.
Dirinya menambahkan keterlambatan itu dikarenakan hal teknisi pihak ketiga yakni memasang pipa terbalik alias pasang dari kampung naik ke gunung atau mata air karena seharunya pemasangan itu dari imtek atau bak menuju ke kampung. “Pasangnya terbalik yakni dari kampung ke mata air atau bak sehingga pipanya kurang dan harus ditambah lagi,” ungkap pada percakapan antara Kadis, Sekretaris Disperkim-LH Ahmad Hadi dan PPK Ridwan saat menjawab pertanyaan awak media.
Dia juga mengaku bahwa saat Covid19 awal tahun 2020 pekerjaan telah berlangsung namun berbagai kenadala akibatkan Covid19 sehingga sampai sekarang belum rampunh. Namun selaku PPK sangat optimis dalam waktu dekat pihak kontraktor bakal menyelsaikannya. “Sekarang ibu Baya masih tunggu pengiriman pipa dari Surabya,” tandas Ridwan.
Sementara itu pihak CV. Batanghari alias Bayakontraktor air bersih Desa Kusubibi mengaku dirinya selaku pihak ketiga yang mengerjakan proyek tersebut, namun ada sedikit kendala yaitu kekurangan pipa sehingga sampai sekarang belum bisa terselesaiakan.
“Saya yang kerja cuman pake pipa HPL dabel ring. Pipa itu memang pas pemasangan dilokasi sisa terakhir kemarin pipa itu kurang,” kata Baya Via Telepon.
Baya bilang pekerjaan bak dan lainnya sudah diselesaiakan hanya saja tersisa pipa sehingga dia memesan di Surabaya melalui kapal namun diperkirakan tanggal 10 Januari 2021 besok ini kap sudah tibah di Kota Ternate.
“Bak semua so ada cuman kurangnya pipa saja. Jadi saya pesan langsung dari Surabaya. Besok 10 ini sudah tiba di Ternate,” aku Baya.
Ditanya kenapa harus pesan di Manado, Baya menerangkan jika pesan di Ternate harus abil lagi, sama juga jika pesan di Manado Sulawesei Utara juga demikian yaitu harus ambil lagi disana. “Kalau pasang Nanado kan harus ambe lagi. Pasang ternate juga harus ambe lagi,” ungkap Baya. Sembari mengaku saat Kapal dari Kalimantam sudah menuju Ternate dan 10 Januari nanti sudah tiba, tetapi dia memesan langsung ke Labuha Bacan.
Lebih jauh lagi dirinya, menyentil terkait kontrak pekerjaan itu tidak sesuai sehingga selaku pihak harus menambahkan sepanjang 300 meter dari kampun ke Bak induk. “Dia pe jarak itu kemarin tra sesuai kontrak, karena hanya sampai digunung akhirnya saya tamba kadara 300 meter,” tandas Baya. Dia juga menyebut proyek air bersih Desa Kusubibi anggarannya 400 juta lebih dan potong PPH dan PPN tersisa 300 juta lebih tak sampai 400 juta.(Dam)












