Deretan Pengusaha Tambang Kusubibi ‘Bikin’ Resah Warga

Selasa, 22 Desember 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Luapan limbah tambang mengandung Cyanida dan Mercury yang mengalir ke sungai air minum warga Desa Kusubibi. Foto:sif//segemen.co.id

Luapan limbah tambang mengandung Cyanida dan Mercury yang mengalir ke sungai air minum warga Desa Kusubibi. Foto:sif//segemen.co.id

LABUHA – Salah kelola tambang rayat di Desa Kusubibi jadi ancaman keselamatan warga sekitar. Kenapa tidak masyarakat Desa Kusubibi, Kecamatan Bacan Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, sangat bersyukur sejak dibuka tambang rakyat sangat sebab Sumber Daya Alam (SDA) bisa dikelola secara langsung.

Belakangan ini potensi SDA itu justru kembali menjadi ancam keselamatan karena adanya pencemaran limbah B3 yang sudah terlihat sangat parah. Buktinya, air sungai dan PDAM setempat tidak lagi bisa dikonsumsi oleh warga Desa Kusubibi.

Keluhan itu kembali dilontarkan sejumlah warga Desa Kusubibi dan sekitarnya. Dari keluhan itu segmen.co.id, mencoba melakukan penulusuran di lokasi atong dan Tromol pada Ahad (20/12/2020) kemarin.

Pencemaran limbah B3 yang paling berbahaya itu sangat banyak. Sebab tampungan limba setiap pengusaha Tong sangat tidak maksimal keguanaannya. Dilokasi juga terlihat limbah sudah menjadi lumpur disepanjang jalan area tambang emas yang tak berizin alias ilegal itu.

Baca Juga :  Pekan Depan Bupati Halsel Serahkan 431 SK PPPK Guru

Bahkan setiap hujan limbahnya tambang sejumlah pengusaha menggunakan Tong itu meluap. Salah satunya milik pengusaha bernama Sudin.

Pengusaha asal Pulau Obi itu diketahui memiliki 5 unit Tong yang saat ini beroperasi di lokasi yang tak berjauhan dari pemukiman warga Desa Kusubibi. Lumpur bercampur limbah berbahaya bagi keselamatan masyarakat yang tidak terurus karena hanya dibendung dengan sejumlah karung yang berisi pasir.

Bukan hanya pengusaha Sudin, namun ada juga sejumlah pengusaha yang secara terang terangan menggunakan Cyanida dan Mercury untuk dipakai saat mengolah material emas dalam Tong tersebut.

Salah satu pengusaha Hi Komar. Komar diketahui saat ini berada di luar daerah. Ilyas orang kepercayaan Hi Komar ditemui segmen.co.id membenarkan untuk mengelola material emas di Tong harus menggunakan bahan kimia yakni Cyanida dan Marcury.

Baca Juga :  Geram soal huntap di Gane, Bupati Usman bakal evaluasi hingga proses hukum

Ilyas bilang pakai Cyanida minimal 3 kilo geram dan maksimal 5 kilo geram dalam 1 Tong, ditambah lagi dengar Marcury. “Punya Bos (Hi Komar) 5 Unit dan setiap operasi harus gunakan Cyanida 3-5 kilo gram dalam 1 Tong untuk bisa mengolah material emas,” ujar Ilyas saat ditemui dilokasi tambang.

Hal yang sama juga disampaikan Rustam. Rustam adalah orang kepercayaan pengusaha atau pemilik Tong yang bernama Ruslan.

Rustam mengakui semua Tong yang beroperasi menggunakan Cyanida dan Marcury. Rata-rata pengusaha Tong tak mampu mengelola limbahnya, sehingga ketika waktu hujan limbahnya meluap keluar hingga ke jalan dan sungai.

“Kita ini pemain Tong dan posisi Kusubibi ini beda dengan tambang rakyat seperti di Palu. Kalao di Palu itu limbah diamankan sehingga tidak tercemar tapi di Kusubibi ini limbah bahan berbahaya tidak dilindungi. Jadi, setiap hujan itu limbah pasti bocor keluar,” terang Rustam.

Baca Juga :  Besok Bupati Bassam Serahkan SK PPPK Halsel

Diwaktu yang sama juga disampaikan Sarna. Sarna meruapakan adik kandung Sudin pengusaha Tong dan Tromol.

Sarna dipercayakan Sudin untuk menjaga dan mengurus usaha Tong dan Tromol ketika Sudin berada diluar lokasi. Dia mengaku usaha Tong Sudin tak menggunakan Cyanida tetapi menggunakan Marcury untuk mengelola material emas.

“Torang cuman pake Mercury saja, tidak pake Cyanida,”aku Sarna.

Ketua adat Togale, Hi. Sadek mengatakan sudah hampir dua bulan warga kusubibi sudah tak lagi mengkonsumsi air yang bersumber dari PDAM. Sebab, warga takut air yang di konsumsi telah tercemari limbah tambang.

“Kami tidak lagi minum Air PAM, alasannya karena takut jangan sampe pipah picah dan limbah masuk di pipa yang picah dan tercampur deng limbah,”ungkap Hi. Sadek, minggu kemarin.(sif)

Berita Terkait

PWI Sebut Kadisparekraf Halsel Rasa Jubir Kusu Island Resort
ASN KPH Jual Tanah Topsoil Ilegal 30 DPR Halsel Tidur
Desak Pemda Halsel Percepat WPR Kusubibi
40 ASN Pemda Halmahera Selatan Ikut PKA 2026
Pemda Halsel Pelopor Penguatan Sistem Manajemen Talenta ASN
Terseret Kasus Jual Tanah Topsoil Polres Halsel Periksa Kades Hidayat
Uji Komitmen Kapolres Halsel Tutup Tambang Ilegal di Kali Raim Liaro
Fajri Ahmad Anak Buah Sherly di Halsel Jadi Tukang Jual Tanah Topsoil Ilegal
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 12:07 WIB

PWI Sebut Kadisparekraf Halsel Rasa Jubir Kusu Island Resort

Kamis, 30 Juli 2026 - 10:32 WIB

ASN KPH Jual Tanah Topsoil Ilegal 30 DPR Halsel Tidur

Kamis, 30 Juli 2026 - 09:42 WIB

Desak Pemda Halsel Percepat WPR Kusubibi

Kamis, 30 Juli 2026 - 00:29 WIB

40 ASN Pemda Halmahera Selatan Ikut PKA 2026

Kamis, 30 Juli 2026 - 00:20 WIB

Pemda Halsel Pelopor Penguatan Sistem Manajemen Talenta ASN

Berita Terbaru

Kadisparekraf Halsel, Ali Dano Hasan. Foto Sadam Hadi|Segmen

Berita Terkini

PWI Sebut Kadisparekraf Halsel Rasa Jubir Kusu Island Resort

Jumat, 31 Jul 2026 - 12:07 WIB

Kantor DPRD Kabupaten Halmahera Selatan

Berita Terkini

ASN KPH Jual Tanah Topsoil Ilegal 30 DPR Halsel Tidur

Kamis, 30 Jul 2026 - 10:32 WIB

Sahmar M. Zen, Direktur PARADE Maluku Utara. foto Sadam Hadi|Segmen

Berita Terkini

Desak Pemda Halsel Percepat WPR Kusubibi

Kamis, 30 Jul 2026 - 09:42 WIB

Berita Terkini

40 ASN Pemda Halmahera Selatan Ikut PKA 2026

Kamis, 30 Jul 2026 - 00:29 WIB

Berita Terkini

Pemda Halsel Pelopor Penguatan Sistem Manajemen Talenta ASN

Kamis, 30 Jul 2026 - 00:20 WIB