 |
| POSE BERSAMA USAI SEMINAR |
Sistem kekebalan tubuh normalnya menjaga tubuh seseorang dari serangan organisme asing, namun kadang kala berbalik dan menyerang tubuh kita sendiri.
Kasus sistem kekebalan tubuh menyerang tubuh sendiri ini disebut penyakit autoimin. Penyakit jenis ini menjadi materi pokok dalam seminar edukasi bertajuk ‘Autoimun Berbagi Bahagia (ABB) Weekend Market’. Seminar yang dipusatkan di Hotel Grand Dafam dipelopori tiga lembaga peduli perempuan dan anak, yaitu Clerry Cleffy Institute (CCI), Marisza Cardoba Foundation (MCF), dan Firda Athira Foundation (FAF).
Dewan pengawas seminar, Prof.Dr. dr. Aru W. Sudoyo mengemukakan, autoimun adalah sebuah kondisi kesehatan di mana sistem kekebalan tubuh kehilangan kemampuan untuk membedakan antara benda asing yang membahayakan tubuh dengan bagian tubuh penderitanya.
“Sehingga menyebabkan keluhan kesehatan kronis bahkan kematian jika menyerang organ yang memiliki peran vital,” katanya usai seminar, Minggu (25/8) malam tadi.
Menurutnya, autoimun kategori penyakit mematikan. Meski begitu kata dia, bisa dikendalikan. Aru mengatakan, bahan-bahan kimia atau tidak natural sering menjadi penyebab. Bahan kimia yang bersumber makanan menjadi perangsang rusaknya anti bodi dalam tubuh.
“Penyakit autoimun sangat langka. Tapi sekarang, jumlahnya meningkat tajam dan kebanyakan penderitanya generasi muda,” kata Aru menambahkan.
 |
| SUASANA SEMINAR |
Firda Athira Foundation (FAF) menganggap masyarakat belum sadar benar akan autoimun. Menurut FAF, pengetahuan masyarakat mengenai bahaya autoimun masih kurang. “Padahal penderitanya di Indonesia bisa mencapai jutaan bahkan puluhan juta orang,” kata Firda Athira.
Gadis berusia 17 tahun ini menyebut kurang dari 80 persen penyintas autoimun usai produktif. Penyakit ini beberapa diantaranya punya gelaja yang sama pada umumnya seperti nyeri sendi, mudah lelah, rambut rontok, sering sariawan, demam tidak beraturan, dan sebagainya.
“Hal ini di pengaruhi oleh faktor genetik (bawaan), namun gaya hidup dan faktor lingkungan memegang peranan jauh lebih penting. Belum ada obat yang dapat memulihkan seseorang dari kondisi autoimun,” katanya. “Penyakit ini dapat di cegah atau di kontrol dengan penerapan pola hidup sehat menyeluruh”.
Dwi Prihandini memandang perlu pentingnya kampanye autoimun atau edukasi ke masyarakat. Berbagai inisiatif dan komunikasi terus dilakukan menunjang mewujudkan program #Senyum Indonesiaku maupun dukungan dan hak yang sama untuk lebih berdaya dalam kehidupan di masyarakat.
“Di Indonesia, autoimun telah menjadi epidemi dengan lonjakan angka penderita yang tajam. Dibutuhkan edukasi massif agar masyarakat kenali keberadaannya dan mewaspadainya melalui penerapan pola hidup sehat menyeluruh. Autoimun adalah ancaman nyata bagi masyarakat Indonesia. Orang dengan autoimun atau ODAI produktivitasnya menurun, hanya mampu beraktivitas 5-6 jam sehari,” kata perempuan pendiri Clerryb Cleffy Institute (CCI) itu.
Dwi berharap angka ODAI di Indonesia tidak meningkat meningkat. “Apalagi penyakit ini belum dapat disembuhkan. Kami himpun dan berdayakan baru mencapai 5.000 orang, karena kendala data valid dari pemerintah yang belum tersedia,” katanya. (red)