Lounching Festival Marabose, ini Uraian Sejarah Sultan Bacan

Minggu, 23 Juli 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Sejarah Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) berawal dari sejarah tentang Jajirah Al-Mulk catatan sejarah Jajirah Tuwiljabal Mulk berlanjut dengan kemunculan kesultan Moloku Kie Raha atau Kesultanan 4 gunung di Maluku Utara yang terdiri dari Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, Kesultanan Jailolo dan Kesultanan Bacan.

Kesultanan Bacan adalah suatu kerajaan yang berpusat di Pulau Bacan, Kepulauan Maluku Utara, Indonesia saat ini, yang muncul dengan perluasan perdagangan rempah-rempah di akhir abad pertengahan.

Kesultanan ini berawal di Pulau Makian yang kemudian mengungsi ke Pulau Bacan akibat meletusnya Gunung Kie Besi dan jangkauan kekuasaannya terdiri dari Kepulauan Bacan (Bacan, Kasiruta, Mandioli, dan seterusnya) dan memiliki pengaruh berkala di Seram dan Kepulauan Raja Ampat.

Kesultanan Bacan jatuh di bawah pengaruh kolonial Portugal pada abad ke-16 dan Perusahaan Hindia Timur Belanda
(VOC) setelah 1609. Bacan merupakan salah satu dari empat kerajaan Maluku (Maloko Kie Raha) bersama dengan
Ternate, Tidore dan Jailolo, Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, fungsi pemerintahan sultan secara bertahap digantikan oleh struktur administrasi modern. Namun, kesultanan telah dihidupkan kembali sebagai entitas budaya di masa sekarang yang dipimpin
oleh Sultan Gerry.

Halmahera Selatan dimekarkan pada tanggal 9 Juni 2003 dengan PJ Bupati pertama Arif Yasim Wahid, dan kemudian dilanjutkan dengan Pemilihan Bupati Pertama tahun 2005 Halmahera Selatan, di mana Dr. H.Muhammad Kasuba, M.A. dan H. Rusly Abdul Wally, S.IP, terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Halmahera Selatan hingga sekarang sekarang ini dipimpin oleh H.Usman Sidik sebagai Bupati dan Hasan Ali Basam Kasuba sebagai Wakil Bupati

Luas wilayahnya 40.263,72 km persegi serta terdiri dari 30 kecamatan dan 249 Desa dan berpenduduk lebih dari sebanyak 251.299 jiwa. Ibu kota Kabupaten Halamahera Selatan sediri terletak di Kota Labuha.

Halmahera Selatan terdiri dari gugusan pulau diantaranya, Ada enam pulau utama diantara pulau-pulau kecil di Kabupaten Halmahera Selatan yakni Pulau Obi, Pulau Bacan, Pulau Makian, Pulau Kayoa, Pulau Kasiruta dan Pulau Mandioli. Sisanya berada di bagian selatan semenanjung Pulau Halmahera.

Baca Juga :  Pentingkah RUU KUHP Disahkan Menjadi UU ?

Kabupaten ini juga terdapat 5 suku (etnis) besar yang mendiami yaitu, Suku Tobelo-Galela, Suku Makian-Kayoa, Suku Buton, Suku Bacan Serta Suku Bajo. Adapun suku dan etnis yang berdomisili di Kabupaten Halmahera Selatan terdapat 13 etnis. Sebagai wilayah kepulauan maka topografi wilayah Kabupaten Halmahera Selatan seluas 61,1 persen tergolong lahan agak curam (derajat kemiringan 15-40 persen dan lahan curam (derajat kemiringan 40 persen. Hanya 38,9 persen saja tergolong datar dan landai yang banyak terdapat di wilayah pesisir.

Kabupaten Halmahera Selatan memiliki beberapa gunung, termasuk gunung berapi diantaranya adalah Gunung Buku Sibela (2.111 m), Gunung Buku, Uwatcain (1.200 m), Gunung Obi (1.611 m), Gunung Buku Karoang (1.127 m) sedangkan beberapa gunung merupakan gunung berapi yaitu Gunung Makian (1.357 m), Gunung Buku Amasing (1.030 m), Gunung Buku Bibinoi (875 m), Gunung Tigalalu (422 m), Gunung Buku Suanggi, Gunung Buku Lansa dan Gunung Buku Songa.

Karakteristik iklim wilayah Kabupaten Halmahera Selatan, beriklim tropis dengan curah hujan rata-rata antara 1.000 mm sampai dengan 2.000 mm. Curah hujan ini hampir merata di Pulau Bacan dan sekitarnya, Pulau Obi dan sekitarnya serta semenanjung Halmahera bagian Selatan.

Selain itu Kabupaten Halmahera Selatan juga dipengaruhi oleh dua musim yaitu Musim Utara pada bulan Oktober-Maret yang diselingi angin Barat dan Pancaroba pada bulan April. Sedangkan Musim Selatan pada bulan September diselingi angin Timur dan Pancaroba pada bulan Oktober.

Kondisi hidrologi (kondisi air permukaan dan air tanah) Kabupaten Halmahera
Selatan dipengaruhi oleh iklim, curah hujan serta keberadaan sungai dan danau. Berdasarkan keberadaan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang telah teridentifikasi, Kabupaten Halmahera Selatan memiliki 151 DAS dan 5 buah danau.

Mengutip ucapan sang tokoh pemekaran dan pemimpin, Sultan Bacan Dede Gahral Adyan Syah “Orang Bacan adalah orang makean yang Hijrah dan orang makean adalah orang Bacan Yang
tinggal.”

Baca Juga :  Musprov IAIMU ke IV usung tema Arsitek Merdeka

Sementara, Pengembangan Destinasi wisata yang dikembangkan oleh pemda Halmahera Selatan, diantaranya, Pulau Widi , Pulau Tawale , Nusa Ra , Pulau Guara Ici (underwater) , dan Manggayoang.

Untuk skala prioritas dan pendukung prioritas diantaranya, Air Panas Tawa , Air Terjun Bidadari , Pantai Omamoi dan Air Terjun Bibinoi. Selain pariwisata sementara ini juga pemda Halsel mengembangkan kawasan geopark. Geopark adalah sebuah konsep berbasis warisan geologi yang memiliki nilai sebagai taman bumi, selain aspek geologi yang memiliki nilai lebih sebagai taman bumi ,aspek geologi (geodivircity) juga didukung oleh keaneka ragaman hayati (biodiversity) dan kultur masyarakat (culturdivercity) potensi atau geological heritage site (geosite) guna di dorong untuk mendukung Geopark Bacan, Air Panas Tawa, Talaga Nusa, dan manggayoang wayamiga dan sebaran Batuan Metamorf Bacan, Geosite ini yang terdapat di Pulau Bacan sementara geosite lainnya yang juga berpotensi sebagai kawasan geopark.

Tersendiri adalah Kars Tawale. Sebagai langka awal dari pencanangan geopark Bacan dan telah ditetapkan dalam pemetaan awal. Dengan mendorong
pulau Bacan sebagai kawasan Geopark maka dampaknya adalah wisata berbasis edukasi.

Pulau Bacan juga memiliki Burung Bidadari Halmahera (semioptera wallacii) adalah salah satu dari 27 jenis burung Maluku Utara dan pertama kali ditemukan oleh Alfred Russel Wallace, salah seorang botanis dari Inggris pada tahun 1858 di pulau Bacan dengan menyebutnya bird of paradise karena memiliki bulu yang sangat cantik dan mempesona terutama jenis jantan yang memiliki 2 pasang bulu yang menyerupai selendang, sehingga ada yang menyebutnya standard wing.

Tak kalah dengan bulunya yang indah tapi juga memiliki suara yang khas dan nyaring menggema di hutan belantara. Makanannya terdiri dari serangga, artropoda, dan buah-buahan. Burung jantan bersifat poligami. Mereka berkumpul dan menampilkan tarian udara yang indah, meluncur dengan sayapnya dan mengembangkan bulu pelindung dadanya yang berwarna hijau mencolok sementara bulu putih panjangnya di punggungnya dikibar-kibarkan.

Baca Juga :  Bupati Bassam Hadiri Munas APKASI ke-VI di Sulut

Burung bidadari bisa ditemukan di Pulau Halmahera dan Bacan pada hutan hujan tropis dataran rendah dan bukitbukit, dan kadang-kadang di daerah berhutan.

Kepala Dinas Parawisata dan Kebudayaan Ali Dano Hasan mengatakan, Latar Belakang Festival Marabose Festival Marabose adalah sebuah Festival untuk menghidupkan ingatan generasi muda tentang sejarah Hijrahnya Sultan Muhammad Al-Baakir dengan perangkat adatnya dari negeri Dauri, Tahane, Limau sigara Dolik, Mara Kie Besi Makian melalui perjalanan laut (Marabose).

Selain merawat ingatan sejarah sambung Ali, festival ini pengunjung juga bisa untuk lebih mengenal Halmahera Selatan baik dari sisi sejarah Budaya, Kuliner, bahari dan keindahan alamya, tentang si cantik bidadari yang menjadi icon Zerro Point atau Titik awal Smart City Halmahera Selatan.

“Festival Marabose akan diadakan pada tanggal 8-12 Agustus 2023. Tujuan Pelaksanaan Festival selain menghidupkan kembali sejarah dan budaya serta asal usul kesultanan Bacan, kegiatan ini juga mendongkrak popularitas daerah yang memiliki potensi dan keindan wisata di Halmahera Selatan, dan juga menjadi bagian dari promosi Pariwisata, Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif Halmahera Selatan,” ujar Ali, Sabtu (22/7).

Ali juga menambahkan, Baik dari kearifan local, kuliner, ekonomi kreatif dan destinasi wisata di Halmahera Selatan. Kabupaten Halmahera Selatan adalah daerah yang dijuluki 1001 pulau terdiri dari pulau besar dan kecil yang memiliki potensi sumber keanekaragaman alam dan budaya sehingga memiliki banyak objek wisata seperti wisata alam, budaya, kuliner dan bahari. Sebagai wilayah yang sebagian besarnya adalah kepulauan, Peran Dinas Priwisata dan Kebudayaan kabupaten Halmahera Selatan menjadikan daerahnya menjadi destinasi utama di Maluku Utara.

“Melalui Festiaval ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Halmahera
Selatan berupaya mengembangkan pariwisata Halmahera Selatan, meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dan melibatkan masyarakat lokal dalam upaya pengengambangan pariwisata agar bisa meningkatkan Pendapatan Asli Daerah,” pungkasnya.(red)

Berita Terkait

PWI Sebut Kadisparekraf Halsel Rasa Jubir Kusu Island Resort
ASN KPH Jual Tanah Topsoil Ilegal 30 DPR Halsel Tidur
Desak Pemda Halsel Percepat WPR Kusubibi
40 ASN Pemda Halmahera Selatan Ikut PKA 2026
Pemda Halsel Pelopor Penguatan Sistem Manajemen Talenta ASN
Terseret Kasus Jual Tanah Topsoil Polres Halsel Periksa Kades Hidayat
Uji Komitmen Kapolres Halsel Tutup Tambang Ilegal di Kali Raim Liaro
Fajri Ahmad Anak Buah Sherly di Halsel Jadi Tukang Jual Tanah Topsoil Ilegal
Berita ini 53 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 12:07 WIB

PWI Sebut Kadisparekraf Halsel Rasa Jubir Kusu Island Resort

Kamis, 30 Juli 2026 - 10:32 WIB

ASN KPH Jual Tanah Topsoil Ilegal 30 DPR Halsel Tidur

Kamis, 30 Juli 2026 - 09:42 WIB

Desak Pemda Halsel Percepat WPR Kusubibi

Kamis, 30 Juli 2026 - 00:29 WIB

40 ASN Pemda Halmahera Selatan Ikut PKA 2026

Kamis, 30 Juli 2026 - 00:20 WIB

Pemda Halsel Pelopor Penguatan Sistem Manajemen Talenta ASN

Berita Terbaru

Kadisparekraf Halsel, Ali Dano Hasan. Foto Sadam Hadi|Segmen

Berita Terkini

PWI Sebut Kadisparekraf Halsel Rasa Jubir Kusu Island Resort

Jumat, 31 Jul 2026 - 12:07 WIB

Kantor DPRD Kabupaten Halmahera Selatan

Berita Terkini

ASN KPH Jual Tanah Topsoil Ilegal 30 DPR Halsel Tidur

Kamis, 30 Jul 2026 - 10:32 WIB

Sahmar M. Zen, Direktur PARADE Maluku Utara. foto Sadam Hadi|Segmen

Berita Terkini

Desak Pemda Halsel Percepat WPR Kusubibi

Kamis, 30 Jul 2026 - 09:42 WIB

Berita Terkini

40 ASN Pemda Halmahera Selatan Ikut PKA 2026

Kamis, 30 Jul 2026 - 00:29 WIB

Berita Terkini

Pemda Halsel Pelopor Penguatan Sistem Manajemen Talenta ASN

Kamis, 30 Jul 2026 - 00:20 WIB