JAILOLO, SG – Kepolisian Resort (Polres) Halmahera Barat ringkus bandar narkoba jenis sabu-sabu berinsial IS. Pria berusia 38 tahun itu merupakan pemilik atau bos rumah makan Ampera di Halbar.
Kapolres Halmahera Barat, AKBP Deny Heryanto mengatakan, dalam pengungkapan ini Tim Resmob menangkap dua tersangka, yaitu RIS (26) merupakan pemakai, dan IS, bandar narkoba sekaligus target operasi (TO).
” Keduanya diamankan di Desa Guaemadu, Kecamatan Jailolo pada Jumat (2/8) malam,” kata AKBP Deny saat meliris hasil pengungkapan.
Hasil penangkapan kedua tersangka tersebut polisi mengamankan sejumlah barang bukti. Dari tangan mereka tim mengamankan 52 gram sabu, 40 butir ekstasi, 30 gram sabu yang simpan di plastik bening besar, alat hisap sabu, satu unit handphone milik IS, buku rekening, serta uang tunai Rp. 6.150.000. (enam juta seratus lima puluh ribu rupiah)
” Pelaku IS dikenakan Pasal 112 ayat 2 junto 114 dengan ancaman paling lama kurungan penjara seumur hidup atau paling minimal 20 tahun. Kalau RIS disangkakan Pasal 112 ayat 1 junto Pasal 137,” kata AKBP Deny.
AKBP Deny menuturkan, barang bukti atau babuk hasil pengungkapan yang rencananya diuji di Laboratorium Forensik (Labfor) Makassar itu di pasok melalui Tiki Jalur Nugraha Ekakurir atau JNE. Modus pengiriman ini dari Surabaya, Jawa Timur langsung diterima pelaku di JNE Jailolo.
” Kita akan kembangkan kasus ini, karena di Surabaya dipastikan barangnya besar, jadi kami akan diskusikan dan tindak lanjut apakah dikembangkan lagi karena inikan dilakukan rutin paling tidak dilakukan dua minggu sekali pengiriman barang, itu berdasarkan data yang kita lihat di handphone tersangka”, katanya.
Kanit Buser Bripka Guntur Abdullah mengatakan, terungkapnya keberadaan IS bermula dari penangkapan RIS sekitar pukul 23.00 WIT, Jumat malam. “IS diamankan sekitar pukul 00.00 WIT, atau berselang satu jam pasca penangkapan RIS”, kata Guntur.
Sementara itu, IS mengakui ada dua orang biasanya memesan barang haram tersebut. Satunya berinisial RIS dan satu lagi F. “F sekarang masih buron”, akuinya. “Berulang kali sudah masuk rehabilitasi. Sudah empat kali mengirim paket, dan kali ini termasuk paling banyak,”, sambungnya. (red)












