LABUHA – Aktifitas Tambang Rakyat di Desa Kusubibi, Kecamatan Bacan Barat, Kabupaten Halmahera Selatan jadi ancaman keselamatan bagi warga sekitar. Pasalnya cemaran Cyanida dan Mercuri mengancam keselamatan warga Desa Kusubibi.
Hal itu diungkapkan setelah Asosiasi Pertambangan Rakyat Indonesia (APRI) Halmahera Selatan meninjau lokasi area tambang. APRI Halmahera Selatan mencatat sebanyak kurang lebih 15 pengusaha yang mengelola hasil tambang dengan menggunakan tong. Masing-masing pengusaha memiliki lebih dari 1 tong, sedangkan total tong yang tersebar di area pertambangan sekitar 30 tong yang beroprasi
Pengusaha alias pengelolan tambang emas dengan menggunakan tong sangat berdampak pada pencemaran lingkungan. Selain berdapak pada pencemaran lingkungan, pengelolaannya menggunakan campuran Cianida dan Merkuri.
Cyanida dan Marcury merupakan bahan kimia berbahaya yang dapat mengancam jiwa manusia.
Hal yang sama juga disampaikn warga Desa Kususbibi. Mereka sudah kurang lebih 2 dua bulan ini tak lagi mengonsumsi air yang bersumber dari PDAM.
Sebab warga takut air yang di konsumsi telah tercemari limbah tambang yang mengandung racun alias bahan kimia. “Sudah hampir dua bulan warga Desa Kusubibi tidak lagi mengonsumsi air yang bersumber dari PDAM, Sebab kami khawatir air yang dikonsumsi sudah tercemari limbah berbahaya,” ungkap Sadek, warga Desa Kusubibi, saat disembangi segmen.co.id Ahad (21/12/2020) kemarin.
Ketua adat keluarga Tobelo Galela di Desa Kusubibi itu juga menyebut saluran pipa PDAM sudah terlewati limbah tambang sehingga warga takut untuk mengonsumsi air yang bersumber dari PDAM tersebut.
“Kami takut jangan sampai pipa itu ada yang bocor sehingga tecampur limbah,” aku Sadek.
Untuk itu, warga Desa Kusubibi memilih mengonsumsi air sungai yang jauh dari lokasi tambang dengan menggunakan kendaraan roda dua. “Untuk skarang warga peroleh air minum dari sungai yang jauh dari area tambang dengan menggunakan motor,” paparnya.
Sadek menjelaskan jarak pemukiman warga dengan tempat pengambilan air bersih itu kurang lebih 1 km. Maka sebagian warga yang tak memiliki kendaraan terpaksa harus membeli air per gelon dengan harga 10.000 (sepulu ribu rupiah).
Maka dengan adanya keluhan ini, dirinya juga berharap semoga ada perhatian dari pemerintah daerah Kabupaten Halmahera Selatan untuk mencarikan solusinya.
“Semoga ada perhatian dari pemerintah daerah, sebelum semuanya terlambat,” tandas Sadek.(sif)












