LABUHA – Polemik berkepanjangan yang berlangsung pada arena musyawarah II IKB Makayoa kemarin menjadi gambaran betapa proses dinamika kehidupan berkelompok di kabupaten Halmahera Selatan masih perlu dibenahi
Kegiatan yang dibuka langsung oleh Bupati Halmahera Selatan Hi Usman Sidik itu kemudian tercederai oleh sikap arogansi oknum peserta musyawarah yang dinilai terlanjur dipelihara
melihat hal ini, Tokoh muda sekaligus akademisi desa Bajo kecamatan Kayoa yang masuk dalam tim 9 penyusun AD/ART Kerukunan Masyarakat Bajo (KMB), Ismed A Gafur, SH. MH. Angkat bicara
Dirinya mengatakan musyawarah IKB Makayoa sejatinya ingin membangun kerjasama dan memperkuat solidaritas serta menjalin silaturahim antar keluarga Makian-Kayoa yang ada di wilayah Halmahera Selatan
“bukan untuk saling melukai yang pada akhirnya hanya akan menciptakan suasana perpecahan dan perselisihan” ucap Ismed, melalui WhatsApp pribadinya. Rabu, (29/09)
menurutnya sangat wajar kalau dalam proses musyawarah itu terjadi perdebatan, perang argumentasi dan ide-ide, asalkan pada tataran yang rasional,
“jangan sampai membuat kegaduhan apalagi saling melempar kursi” keluhnya
Ismed menilai tujuan musyawarah tidak lain ialah mencari pemimpin yang bisa mempertahankan eksistensi kesukuan dan memperkenalkan budaya maupun tradisi kearifan lokal
Oleh karenanya kata dia, nanti yang menjadi pemimpin dalam organisasi paguyuban terbesar di Halmahera Selatan ini sepantasnya mempunyai tanggung jawab besar untuk menjaga kolektifitas kekeluargaan dan tentu siap menjalankan program-program kerja selama periode kepemimpinan
Ia berharap setiap elemen apapun di negri Saruma, harus lebih dewasa untuk menyikapi problem dalam setiap dinamika musyawarah
“Saya juga berharap agar Musyawarah I Kerukunan Masyarakat Bajo (KMB) yang akan di gelar nanti tidak bernasib seperti halnya IKB Makayoa” pintanya
Sementara itu menurut Ismed, KMB diagendakan bakal melangsungkan pra Musyawarah ke satu pada Bulan Okteber mendatang. (Ipl)












