LABUHA – Kontraktor klas kakap di Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) kini menggantung hidup ratusan warga asal Makasar Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Pulau Jawa. Kenapa tidak Crew PT. Bangun Usaha Mandiri Nusa (PT. BUMN) itu diduga tega menelantarkan anak kerja dari kota daeng dan pulau Jawa kurang lebih 10 hari di Labuha Ibu Kota Halsel.
Warga Kota Makasar dan Pulau Jawa itu terpaksa tidur berdinginan beralaskan seadanya di Aula Mesjid Raya Halsel, di Desa Kampung Makian Kecamatan Bacan. Mereka datang di Kota Saruma atas ajakan Konsultan PT. BUMN Rani Bimahari untuk bekerja pada salah satu proyek PT. BUMN di Desa Kawasi Pulau Obi.
Informasi yang dihimpun segmen.co.id Konsultan PT. BUMN Rani Bimahari memerintahkan kepada kepala bas atas nama Kholis untuk memboyong ratusan warga Makasar dan Jawa itu untuk kerja proyek perumahan di desa Kawasi Pulau Obi denagn kesepakatan borongan pemerjaan.
Bahkan dari kesepakatan mereka yakni pihak PT. BUMN dan pekerja yaitu setelah tiba di Labuha Halsel langsung bekerja akan tetapi paska tiba sekira 10 hari ini di Labuha mereka belum juga bekerja.
Situasi keberadaan mereka sangat dan sangat memprihatinkan itu seperti yang dikeluhkan Supriantu salah satu pekerja asal kota daeng alias Makasar Sulsel.
“Sudah lima hari kami di Bacan. Kedatangan kami disini ingin bekerja tapi sampai saat ini kami belum juga kerja,” ujar Supriantu, kepada segmen.co.id, saat ditemui di halaman Mesjid Raya Halsel, Sabtu (16/01/2021).
Supriantu dan kawan-kawan lainya juga mengatakan bahwa, PT BUMN alias Rani Bimahari sebagai penanggungjawab atas kedatangan mereka dari Makasar harus ke Bumi Saruma ini.
“Waktu di Makasar itu, katanya tiba di sini langsung kerja, tapi saat ini kami diterlantrakan” terangnya sambil wajah memelas.
Selain itu, Supriantu dan teman-teman juga mengeluhkan terkait nasib mereka berada di Labuha. Pasalnya sudah lima hari mereka berada di Bacan meninggalkan anak dan istri di Makasar namun belum juga mengetahui kejelasan kapan mereka harus dipekejakan sesuai kesepakatan.
Dirinya juga mengaku sejak diboyong pihak PT. BUMN hanya memberi panjar satu orang lima ratus ribuh. Namun dengan uang lima ratus ribuh kata dia tidak cukup sebab dalam perjalanan uang tersebut sudah habis dipakai.
“Anak Istri perlu makan, kami berharap kita sudah kerja, sementara waktu ke sini kita dikasih panjar perorang 500 ribu, tapi sudah habis di kapal saat perjalanan dari Makasar ke Bacan,” papar Supriantu.
Supriantu Cs juga berharap, bila tidak dipekerjakan, maka lebih baik mereka dipulangkan ke kampung halaman di Makasar. “Kalau tidak dipekerjakan lebih baik pulangkan saja,” sahut Suprianto dan warga Makasar lainnya.
Diwaktu yang sama Rani Bimahari saat ditemui sejumlah awak media, dirinya menghindar dan tak mau memberikan keterangan panjang. “Saya tidak mau, silahkan datang ke kantor pusat,” singkat Rani.
Rani mempersilahkan para awak media segera ke kantor Pusat PT. BUMN di Desa Kupal Pantai, Kecamatan Bacan Selatan agar meminta keterangan atas keterlantaran itu sehingga dijawab dengan jelas oleh petinggi PT. BUMN.(Dam)












