LABUHA – Proyek pembangunan Rumah Sakit Pratama (RSP) Kecamatan Makian mangkrak akibat kebesaran fee proyek yang dipatok oleh pejabat di Halmahera Selatan (Halsel) Provinsi Maluku Utara.
Proyek yang dibangun tahun 2023 lalu dengan sumber anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) 44 miliar dari Kementrian Kesehatan Repoblik Indonesia amburadul.
Hanya 25 persen progres pembangunan RSP Makian yang berhasil dibangun oleh pihak rekanan CV. Bina Bangun Sakti. Mangkrak mega proyek itu rupanya diduga ada biang keladinya.
Informasi yang dihimpun segmen.co.id menyebutkan praktek mafia fee proyek diduga terjadinya buntut mengapa mega proyek RSP Makian itu mangkrak.
Belakangan, Bupati Halsel Hasan Ali Bassam Kasuba yang baru menjabat setelah proyek itu berjalan dan mangkrak justru kena getahnya.
Entah kepentingan politik atau apa? padahal orang nomor satu di Halsel saat ini bertekad melanjutkan pembangunannya justru dituding berbohong, padahal pihak rekanan juga mengakui bakal melanjutkan pekerjaan tersebut.
”Ada nuansa, pihak tertentu menghendaki permasalahan pembangunan di RSP Pulau Makian bermasalah sehingga bisa dikelola sebagai isu politik mendiskreditkan Bupati Bassam Basuba,” kata salah satu sumber terpercaya segmen.co.id, Senin (15/04).
Dia mengungkapkan, perusahan kontraktor diduga kena palak fee proyek tinggi sehingga dana awal tidak bisa membiayai maksimal pekerjaan proyek di lapangan.
“Kabarnya perusahan kena patok fee proyek sejak pencairan awal puluhan persen sehingga dana perusahan melemah tidak bisa membiayai operasional proyek,” ungkapnya.
Sayangnya kata dia, tidak menyebut jelas siapa pejabat Dinas Kesehatan Halsel atau petinggi lainnya di bumi Saruma yang terlibat dalam mafia fee proyek.
Dikatakannya, tidak menunjuk langsung posisi jabatan yang sangat mungkin mempengaruhi kebijakan tender dan pelaksanaan proyek.
Menurutnya, mangkraknya proyek RSP Makian belakangan permasalahannya dialamatlan kepada Bupati Bassam Kasuba, padahal Bassam waktu itu masih jabat sebagai Wakil Bupati yang tidak punya kuasa apa-apa terhadap tender dan pelaksanaan awal namun akhir-akhir ini seolah-olah mangkraknya pembangunan Bassam dituntut menampung semua residu atau racun dari kerja mafia proyek ini.
Lebih jauh lagi, dia menjelaskan, padahal dengan niat baik Bupati Bassam bertegad tetap melanjutkan kebijakan anggaran yang telah disahkan pada era sebelumnya perlu diapresiasi.
“Bupati Bassam pemimpin yang sangat peduli rakyat Makian ya. Contoh RSP Makian dan pembangunan jalan juga pak Bassam ngotot harus lanjutkan walau sempat mangkrak,” imbuhnya.(red)












