Ternate – Sebuah video yang beredar di media sosial menunjukkan kondisi proyek pengembangan Bandar Udara Sultan Babullah Ternate di Kota Ternate, Maluku Utara, yang amburadul dan tidak profesional.
Video ini mendapat banyak tanggapan dan kritik dari netizen dan berbagai pihak.
Dalam video tersebut, terlihat plafon yang tidak rapi, penyok, dan bengkok.
Selain itu, juga terlihat pekerja yang tidak menggunakan atribut kesehatan dan keselamatan kerja (K3) dan tidak ada rambu-rambu K3 di lokasi proyek.
Proyek ini dikerjakan oleh PT Ramandika Mandiri dengan konsultan PT Tambora Setia Jaya.
Proyek ini dibiayai oleh APBN 2023 LPSE Kementerian Perhubungan senilai Rp 41,3 miliar.
Proyek yang dimulai sejak 20 Maret 2023 dan dijadwalkan selesai pada 14 Desember 2023.
Namun, banyak pihak yang meragukan proyek ini akan rampung tepat waktu.
Beberapa sumber yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kepada media bahwa proyek ini kemungkinan besar tidak akan selesai sesuai jadwal.
Salah satu sumber tersebut adalah Syamsul Syarif, CST, seorang ahli K3 konstruksi bersertifikat. Ia menilai pekerjaan terkesan asal-asalan,
“Uang proyek besar sekali kok pakai bahan bekas, itu terlihat sekali pemasangan plafon yang tidak simetris, bahkan penyok dan bengkok, sudah jelas mengurangi estetika arsitektur, terlihat jelek sekali, coba cek pasti banyak barang bekas itu, itu juga kelengkapan K3 pekerja yang tidak dilengkapi dengan atribut K3 dan rambu-rambu K3 di lokasi pekerjaan proyek, K3 ini penting sehingga menghindari terjadinya insiden kecelakaan pekerja maupun orang lain,” ungkapnya. Senin (11/12/2023).
Andy Firmansyah, Ketua LSM Indonesia Anti Korupsi, juga mengecam proyek ini.
“Pengerjaan proyek pengembangan Bandar Udara Sultan Babullah Ternate, Maluku Utara tampak amburadul. pengerjaan yang tidak profesional tampak dalam tayangan video yang viral di media sosial,” katanya.
Ketua Presidium FPII Kasihhati, yang kebetulan hadir dalam acara Pembukaan Hari Nusantara, juga menyoroti proyek ini. Ia bahkan meminta agar pihak terkait perlu mendapatkan sanksi atas hal tersebut.
“Mega proyek pengembangan Bandar Udara Sultan Babullah besutan Kementerian Perhubungan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Unit Penyelenggara Bandar Udara Sultan Babullah, Ternate, Maluku Utara, amburadul. Bandara ini yang menelan biaya miliaran rupiah terlihat acak-acakan, tidak ada K3, amburadul tidak berjalan sesuai perencanaan dan mustahil selesai tepat waktu. jika selesai pasti ada yang dipaksakan, sedih lihat bandara yang menghabiskan anggaran miliaran tapi acak-acakan, sudah sepantasnya, Menteri Perhubungan mengaudit Ka Bandara bila perlu copot, karena dinilai tidak becus dalam memimpin,” ucap Kasihati.
Bandara Sultan Babullah Ternate merupakan pintu gerbang dan wajah dari Kota Ternate yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan fasilitas bandara serta mendukung pertumbuhan ekonomi lokal karena banyak wisatawan berkunjung ke sini.
Namun, harapan itu kini terancam pupus karena proyek yang tidak berjalan lancar.
Beberapa tokoh pemuda Ternate dan Tidore juga mengutarakan kekecewaannya dengan proyek bandara yang mengusung nama besar Sultan Babullah, pahlawan nasional asal Ternate.
Mereka berharap proyek bandara dapat dibangun dengan kualitas terbaik sebagai bentuk penghormatan dan kebanggaan terhadap kesultanan Ternate.












