LABUHA – Pengusaha Tambang Rayat Desa Kusubibi rupanya tak mau ambil pusing dengan luapan limbah cairan Cyanida dan Mercury yang berdampak pada keselamatan warga sekitar. Pasalnya mereka tak mengindahkan keluhan waga kurang lebih 2 bulan yang tak bisa konsumsi air minum disekitar, akibat cairan bahan kimia itu.
Hal itu lantang dikatakan oleh Sudin salah satu pengusaha Tong dan Tromol diarea tambang rayat Desa Kusubibi ketika dikonfirmasi Via Hanpone.
Sudin mengatakan limbah atau cairan Cyanida dan Mercury dari Tong miliknya tak berdampak terhadap warga yang menkonsumsi air.
Sudin bilang jangan hanya dirinya terus menerus disalahkan disetiap keluhan warga sebab banyak pengusaha menggunakan Tong dan limbahnya sangat berbahaya yaitu meluap hingga ke mata air minum warga. “Warga ambe air itu diatas bukan disitu. Kita punya (Limbah) bukan buang di kali atau sungai,” ujar Sudin kepada media ini, Selasa (22/12/2020).
Dirinya mengelak Tong miliknya tak membuang limbah di sungai. Bahkan Sudin lebih menyelahkan pengusaha Tong lainnya yang membuang limbah di sungai tempat pengambilan air minum warga Desa Kusubibi. “Dorang punya yang banyak itu langsung buang di sungai. Jangan cuman kita,”tegas Sudin.
Pihaknya mengaku sebelumnya warga pernah meminta dia membeli pipa agar digunakan pembuangan limbah jauh dari sungai, namun Sudin tak mengindahkan itu.
Bahkan Sudin dengan lentang memberi saran kepada warga, silahkan minum saja air itu jika air yang bercampur limbah Cyanida dan Mercury mengandung racun dan membuat warga meninggal barulah pihaknya bertanggungjawab.
“Kita kamarin cari, dorang suru kita bali pipa, kita bilang minum saja (air itu) bila ngoni mati ngoni kamari la torang yang tanggungjawab,” aku Sudin seakan tak bersalah dalam peluapan limbah yang mengandung bahan kimia itu.
Sudin membandingkan sebelumnya pernah berusaha Tong di Pulau Obi hingga puluhan tahun tetapi limbah yang dibuang di sungai tak membuat warga meninggal dunia.
Selain mengelak Sudin juga menyalahkan warga Desa Kusubibi yang mengizinkan dirinya membuat usaha Tong dan Tromol di area itu.
“Dari awal kalau dorang (masyarakat) bilang disitu tra bisa. Tapi dari dorang masyarakat yang mengizinkan,” aku Sudin.
Lebih jauh lagi dirinya menyarankan agar konfirmasi juga kepada pengusaha lain salah satunya Hi Komar sebab usaha Tong di Kusubibi jumlahnya mencapai puluhan namun selalu saja dirinya menjadi sasaran. Sebab semua usaha Tong dan Tromol di Kusubini limbahnya tetap berdampak pada masyarakat.
“Jangan hanya saya, silahkan cek yang lain lagi seperti Hi Komar. Kalau mau tutup silahkan tutup semuanya,” tandas Sudin seraya menyarankan silahkan tutup semua usaha tambang Ilegal di Desa Kusubibi itu.
Komentar Sudin membuat Irvan Abdurahman Ketua Asosiasi Tambang Rakyat Indonesia Kabupaten Halmahera Selatan. Irvan menyesalkan sikap Sudin yang tak memikirkan keselamatan warga Kusubibi.
“Tak ada yang melarang kamu bisnis tetapi paling tidak harus mengedepankan keselamatan warga,” kata Irvan.
Menurutnya pengusaha Tambang yang tak memilik izin alias ilegal malahan pengusahanya lebih mengedepankan raup hasil ketimbang kesejahteraan masyarakat. “Usaha bole tapi harus ada konstribisi ke masyarakat demi kesejahteraan,” akunya.
Ketua adat Togale Desa Kusubibi Hi. Sadek mengatakan sudah hampir dua bulan warga kusubibi sudah tak lagi mengkonsumsi air yang bersumber dari PDAM dan suangai. Sebab, warga takut air yang di konsumsi telah tercemari limbah tambang.
“Kami tidak lagi minum Air PAM, alasannya karena takut jangan sampe pipah picah dan limbah masuk di pipa yang picah dan tercampur deng limbah,”ungkap Hi. Sadek, minggu kemarin.(sif)












