Kades Tawa Bijak Menanggapi Massa Aksi

Rabu, 5 Agustus 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bahtiar Hakim

Bahtiar Hakim

LABUHA – Desakan sejumlah mahasiswa Desa Tawa Kecamatan Kasiruta Timur yang meminta Kepala Desa untuk mundur dari jabatannya, ditanggapi secara dingin oleh Bahtiar Hi Hakim yang merupakan Kades Tawa.

“Berdemokrasi itu ada dinamikanya, mungkin yang kami alami di desa Tawa saat ini adalah dinamika demokrasi, mungkin pula sebagai bukti desa Tawa sudah maju dan sudah banyak yang bependidikan tinggi, insyah Allah ada jalan keluarnya” ujar Bahtiar kepada segmen.co.id Rabu (04/08).

Dirinya sampai saat ini masih yakin dan merasa tidak bersalah, pasalnya semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya, menurutnya tidak beralasan.

“Jika saya dituduh menyalahgunakan anggaran DD 2017 hingga 2019 itu tidak benar, karena selama tahun-tahun itu semua kegiatan dilakukan dengan baik dan sudah ada hasil audit Inspektorat, dan tidak masalah, hanya dalam bentuk pembinaan,” akui Tiar sapaan akrabnya.

Tiar juga mengatakan dengan adanya DD, banyak kegiatan yang dilakukan, seperti infrastruktur desa berupa talud, pagar, jalan , kantor desa, lampu penerangan jalan, sanitasi, memberikan beasiswa kepada mahasiswa dan masih banyak lagi. Semua kegiatan itu kata Tiar masyarakat turut berpartisipasi.

Baca Juga :  GMNI Tolak Musda KNPI Maluku Utara di Halut

“Banyak kegiatan yang kita lakukan dengan sumber anggaran DD dan Alhamdulillah tidak bemasalah dengan hasil audit inspektorat selama ini, lalu saya dituduh salahgunakan DD, dan dilaporkan ke Kejari kan aneh,” bebernya.

Saat ditanya tanggapannya atas aksi-aksi mahasiswa di desanya selama ini, dirinya menanggapi dengan dingin dan bijak, itu terjadi karena memang sampai saat ini di masa Covid19 ini, kampus dan sekolah libur, jadi mahasiswa dan pelajar banyak yang pulang di kampung, jadi mereka melakukan kritik.

“Ya itu wajar-wajar saja, dan fenomena itu bukan hanya di desa saya, banyak juga terjadi di desa-desa lain terutama di Halsel,” katanya.

Namun demikian, Tiar juga menyesalkan tindakan kurang baik jika aksinya diikuti dengan coret-coret dinding gedung, palang kantor desa, megeluarkan kata-kata kotor terhadapnya itu kurang baik. Karena kalau sebagai kades ya sah-sah saja, tetapi kalau secara pribadi, dirinya juga punya keluarga anak, istri dan juga punya pendukung dan basis itu yang tolong dimaklumi.

Baca Juga :  GMNI Sebut Bubarkan KNPI Malut adalah Alternatif

“Kalau demo ya demo, tapi masa harus palang kantor coret-coret dan berkata-kata kotor kan kurang baik,” jelas Tiar.

Sementara itu, terkait desakan untuk mundur dari jabatannya, dirinya menganggap itu desakan yang tidak prosedural dan jika terus didesak mereka akan melanggar hukum. Sebab saya sampai sekarang tidak bermasalah dengan hukum, sehat-sehat, masih tetap menjalankan aktivitas sebagai kades, bahkan membagi BLT di masa Covid19 tidak ada masalah.

“Dalam undang-undang, kades bisa berhenti dalam perjalanan periodesasi jika yang bersangkutan bermasalah dengan hukum, atau berhalangan tetap misalnya sakit, meninggal dunia, tindakan asusila, selama itu tidak terjadi ya tetap menjabat,” beber Tiar.

Terkait aksi penolakan yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa dan sebagian masyarakat kecil terhadap dirinya yang sempat viral, dirinya mengatakan, “kejadian itu terjadi saat saya sedang dalam kunjungan kerja ke dusun untuk menyelesaikan sedikit persoalan antara masyarakat di dusun dan desa induk setelah sayat balik mahasiswa dan beberapa masyarakat suda di pelabuhan hendak menolak saya dan masyarakat di dusun Tuamoda untuk masuk desa, saat itu ada polisi dan pak camat, karena suasana memanas, ya suda, sebagai pemimpin saya mengalah, ditakutkan suasana jadi lain maka pak camat dan polisi saja yang turun dari perahu dan saya bersama masyarakat dusun balik ke dusun, itu kronologisnya,” urai Tiar. Sembari menghimbau agar masyarakatnya tetap menjaga tali silaturrahim, membangun persaudraan dan tetap menjaga hubungan kekeluargaan.

Baca Juga :  Kasus Korupsi Dana BOK Puskesmas Gandasuli Naik Penyidikan

“Karena Desa Tawa itu istilanya satu keluarga, satu rahim, dan merupakan desa yang masih tetap menjaga adat istiadat, nuansa keagamaan tetap terjaga, jadi saya berharap dan berdoa meskipun dilanda konflik tetapi tetap damai,” tutur kades dua periode ini.(sh)

Berita Terkait

ASN KPH Jual Tanah Topsoil Ilegal 30 DPR Halsel Tidur
Desak Pemda Halsel Percepat WPR Kusubibi
40 ASN Pemda Halmahera Selatan Ikut PKA 2026
Pemda Halsel Pelopor Penguatan Sistem Manajemen Talenta ASN
Terseret Kasus Jual Tanah Topsoil Polres Halsel Periksa Kades Hidayat
Uji Komitmen Kapolres Halsel Tutup Tambang Ilegal di Kali Raim Liaro
Fajri Ahmad Anak Buah Sherly di Halsel Jadi Tukang Jual Tanah Topsoil Ilegal
Tak Kantongi Izin DLH Halsel Akui Pengambilan Tanah Topsoil di Hidayat Ilegal
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 10:32 WIB

ASN KPH Jual Tanah Topsoil Ilegal 30 DPR Halsel Tidur

Kamis, 30 Juli 2026 - 09:42 WIB

Desak Pemda Halsel Percepat WPR Kusubibi

Kamis, 30 Juli 2026 - 00:29 WIB

40 ASN Pemda Halmahera Selatan Ikut PKA 2026

Kamis, 30 Juli 2026 - 00:20 WIB

Pemda Halsel Pelopor Penguatan Sistem Manajemen Talenta ASN

Rabu, 29 Juli 2026 - 05:14 WIB

Terseret Kasus Jual Tanah Topsoil Polres Halsel Periksa Kades Hidayat

Berita Terbaru

Kantor DPRD Kabupaten Halmahera Selatan

Berita Terkini

ASN KPH Jual Tanah Topsoil Ilegal 30 DPR Halsel Tidur

Kamis, 30 Jul 2026 - 10:32 WIB

Sahmar M. Zen, Direktur PARADE Maluku Utara. foto Sadam Hadi|Segmen

Berita Terkini

Desak Pemda Halsel Percepat WPR Kusubibi

Kamis, 30 Jul 2026 - 09:42 WIB

Berita Terkini

40 ASN Pemda Halmahera Selatan Ikut PKA 2026

Kamis, 30 Jul 2026 - 00:29 WIB

Berita Terkini

Pemda Halsel Pelopor Penguatan Sistem Manajemen Talenta ASN

Kamis, 30 Jul 2026 - 00:20 WIB